Arsip Kategori: Bisnis
MENJADI SUPLIER HEBAT UNTUK RITEL MODERN
Menjadi pemasok ritel modern (minimarket, supermarket dan hypermarket) tidaklah semudah menjadi pemasok ritel tradisional. Masuk ritel modern seringkali memiliki banyak hambatan, misalnya pemasok harus membayar listing fee, sewa rak, trading term serta program-program lainnya yang nilainya tidak masuk akal. Kondisi ini tentunya bisa menjadi kendala bagi pemasok besar maupun kecil sehingga tidak jarang pemasok menjadi putus asa jika memasok ke ritel modern.
Buku ini bisa menjadi penyegar dan inspirasi bagi pemasok kecil maupun besar sebab akan membahas berbagai strategi atau langkah-langkah apa saja, jika kesulitan menjadi pemasok di ritel modern. Membaca buku ini, pemasok akhirnya bagaikan tungkang sulap, sehingga dengan keterbatasannya malah bisa memasukan produk-produknya ke ritel modern. Apa saja yang dibahas dalam buku ini?
- Berbagai persiapan sebelum masuk ke ritel modern.
- Apa saja mekanisme memasok minimarket, supermarket dan hypermarket.
- Strategi masuk ritel modern dengan berbagai jurus.
- Strategi mempertahankan produk yang sudah masuk ritel modern agar tidak di-delete dari list produk di ritel modern.
- Cara menghitung target dan pengembalian investasi masuk ritel modern atas listing fee, sewa rak, trading term serta lainnya.
- lain-lain mengenai ritel modern.
Buku yang sangat berharga ini amatlah sayang jika tidak dimiliki, terutama bagi pemasok baru maupun lama, para salesman, supervisor, manajer penjualan, serta para pemilik UKM agar produk-produk yang dimasukan ke ritel modern berhasil dengan baik. Buku ini juga cocok untuk para dosen dan mahasiswa yang ingin menambah pengetahuannya pada ilmu ritel management. Jadi jangan tunda lagi untuk memiliki buku yang ditulis oleh penulis berpengalaman bertahun-tahun dan langsung berinteraksi dengan para ritel modern ini.
CLUSTER STRATEGY
Cluster strategy adalah strategi yang memfokuskan pada pengerjaan wilayah penjualan secara terfokus melalui peta wilayah yang telah disepakati. Distributor/dealer tidak diperbolehkan atau dilarang menjual produk di luar wilayah yang sudah ditentukan. pada Produk FMCG (fast moving consumer good) penjualan lintas wilayah yang sudah disepakati antara principal dan distributor/dealer dinamakan dengan border crossing. Border crossing ini akan dikenakan denda yang besarannya sekitar 5 juta sampai dengan 20 jutaan.
Cluster Strategy tidak hanya untuk fokus wilayah penjualan, tetapi digunakan pula untuk program promosi suatu produk, dimana bidikan program promosi ini tidak secara umum atau menyeluruh. Artinya program promosi hanya dilakukan sesuai dengan kebutuhan . Wilayah mana yang membutuhkan promosi ditempat itulah program promosi dilaksanakan. Cluster Strategy ini sebenarnya strategi yang full “grilya” sebab diupyakan agar pesaing tidak mengetahui gerakan program promosi ini, atau pesaing tidak menyadari adanya program promosi yang dilakukan perusahaan pesaingnya. Bagi perusahaan pesaing yang tidak menyadarinya program promosi ini sangat menghancurkan. Misalnya untuk wilayah penjualan yang mana pesaing memiliki produk sangat kuat, tiba-tiba drop penjualannya akibat gerakan program promosi secara Cluster strategy ini. Selama ini Cluster strategy memiliki banyak manfaat antara lain adalah :
- Hemat budget promosi dan fokus sesuai kebutuhan.
- Hasil efektif sebab mengenai bidikan sperti seorang sniper, yang tidak bisa dilakukan oleh perusahaan beriklan secara menyeluruh.
- Ditengarai tidak akan diketahui pesaing karena sifatnya yang tidak menyeluruh dan terkotak-kotak.
- Program mudah diukur karena customer yang mengikuti program tercatat dalam data base.
- Oleh karena wilayah terpetakan dan terbatas program ini mudah di kontrol.
Untuk training/workshop/ seminar serta set up distribution channel untuk pengembangan wilayah penjualan, bisa menghubungi www.groedu.com a/n Frans M. Royan, SE,MM. HP 0818521172. Semoga sukses!
STRATEGI MENINGKATKAN PENJUALAN MELALUI MULTY DISTRIBUTION CHANNEL
Problem utama pemasaran adalah bagaimana memasarkan produk perusahaan secara luas. Sementara itu untuk melakukan hal ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Seperti yang diketahui, bahwa Negara Indonesi adalah Negara kepulauan yang memiliki hambatan di bidang transportasi. Oleh sebab itu akhirnya hal ini menyurutkan keinginan produsen untuk berekspansi ke seluruh wilayah Indonesia. Ia akhirnya hanya mengerjakan sales territory yang terbatas, padahal agar meningkat penjualannya harusnya produsen menggali kemampuan penjualan untuk wilayah lain yang tidak dijamahnya.
Bagi produsen yang memiliki tekad memasarkan produknya secara luas, memiliki solusi untuk ini, yaitu membuka kantor cabang di kota-kota potensial di Indonesia. Tetapi dalam praktek untuk membuat kantor cabang tidak semudah membalikan telapak tangan, tetapi membutuhkan usaha-usaha yang sangat keras dan persiapan yang matang. Seperti sistem operasional, pimpinan cabang, infrastruktur kantor cabang, perijinan, SDM pelangkap serta lainnya. Dan tentu saja hal ini tidak mudah disusun begitu saja. Kendala yang utama sering muncul adalah tidak adanya pimpinan cabang yang akan mengoperasikan kantor cabang secara profesional oleh sebab sangat langkahnya SDM ini. Bahkan perusahaan untuk menyiapkan pegembangan usahanya, melakukan dengan banyak cara antara lain adalah membuat department management trainee, tetapi ternyata hasilnya tidak sesuai dengan kenyataan. Para calon kepala cabang yang dididik mulai dari nol ini seringkali ingkar janji dan mereka suka menolak tugas yang diberikan oleh perusahaan. Mendingan mereka membayar denda pembelajaran yang diberikan perusahaan, dan kemudian hengkang ke perusahaan competitor. Inilah kerugian produsen yang menyiapkan SDM pimpinan cabangnya. Akhirnya program pembukaan kantor cabang terhambat, hasilnya pengembangan pemasaran produk bergerak melambat.
Dari kasus diatas, ternyata masih sedikit perusahaan yang mengetahui solusi yang sangat tepat dan sangat effectif yang sudah dilakukan beberapa perusahaan multinasional maupun local. Mereka dengan cepat melejit tanpa harus pusing-pusing bagaimana menyiapkan kantor cabangnya di seluruh Indonesia. Siapa mereka-mereka itu? Antara lain adalah : Unilever, Nestle, Kraf, PT Sinar Antjol, Kimberly, Wing surya, Johnson & son, Cusson Indonesia, PT. Softex Indonesia, Mayora, serta banyak lainnya. Strategi apakah yang dibangun oleh mereka untuk memasarkan produknya ke seluruh wilayah Indonesia? Salah satu strategi yang dibangunnya adalah strategi MULTY DISTRIBUTION CHANNEL.
Aplikasi MULTY DISTRIBUTION CHANNEL ini memang diawal sangat rumit. Persoalannya harus mencari mitra yang ada di seluruh kota potensial sesuai peta penjualan yang sudah dibuat oleh produsen. Tetapi jika sudah ditemukan dan jalan, maka metode ini dapat “melipatgandakan penjualan” berkali lipat dibanding menggunakan cara membuka kantor cabang. Selain hal ini apa saja manfaat lain yang diterima produsen jika menggunakan MULTY DISTRIBUTION CHANNEL, manfaat tersebut antara lain :
- Produk produsen dapat disebarkan secara merata oleh distributor sesuai dengan sales territory yang ditentukan oleh produsen.
- Sistem pembayaran ke produsen sudah diatur menggunakan MOU, dan secara legal distributor telah menjadi mitra utama, sebab distributor akan menyerahkan bank garansi sebagai jaminan.
- Aplikasi program promosi dapat dipantau dengan baik sebab produsen mengirimkan SDM representatifnya yang turut membantu pengelolaan management distribusi.
- Program promosi a bove the line pusat terkoneksi dengan baik sebab distributor akan mendukung pendistribusian produk hingga ke pelosok-pelosok sehingga efektifitas iklan akan memudahkan transaski penjualan.
- Oleh karena kinerja distributor terpantau, dan komitmen dalam pendistribusian produk, maka tingkat persaingan yang sangat kompetitif dapat diimbangi dengan baik oleh produsen.
- Secara jelas dengan adanya mitra kerja distributor, produk produsen tidak akan kosong di toko-toko sebab produsen telah menggunakan IT dalam bentuk software yang bisa memantau sampai dengan inventory produk di distributor. Persediaan barang di distributor sangat terjamin sehingga mengurangi kekosongan tersebut.
Di bawah ini terdapat perbandingan jika mendirikan kantor cabang dengan kalau bekerja sama dengan para distributor local.
| KANTOR CABANG | KETERANGAN | DISTRIBUTOR | KETERANGAN |
| Kantor | Investasi | Kantor | Sudah ada |
| Gudang | Investasi | Gudang | Sudah ada |
| Armda Delivery | Investasi | Armada Delivery | Sudah ada |
| Staf Admin Penjualan | Rekrutment | Staf Admin Penjualan | Sudah ada |
| Staf Accounting | Rekrutment | Staf Accounting | Sudah ada |
| Ka & staf Logistik | Rekrutment | Ka & staf Logistik | Sudah ada |
| Sales force | Rekrutment | Sales Force | Sudah ada |
| Sales supervisor | Rekrutment | Sales supervisor | Sudah ada |
| Kepala cabang | Rekrutment | Manager operasional | Sudah ada |
| Support IT | Investasi | Support IT | Sudah ada |
| Peralatan kantor | Investasi | Peralatan kantor | Sudah ada |
| Pelanggan | Mencari | Pelanggan | Sudah ada |
Jika membandingkan pada table diatas, sudah bisa dihitung secara kasar mendirikan kantor cabang yang ada di seluruh Indonesia, produsen akan mengeluarkan biaya investasi yang cukup besar. Sangat berbeda sekali jika produsen bekerja sama dengan para distributor local yang ada di tanah air. Maka produsen dalam waktu singkat akan bisa mengoperasikan program pemasarannya ke seluruh Indonesia. Seperti yang diketahui prasarana dan sarana distributor dalam memasarkan produk sudah siap sedia. Dengan beberapa manfaat keuangan antara lain:
- Piutang penjualan produsen dapat dikontrol dengan baik, sebab piutang penjualan hanya antar produsen dengan distributor. Sangat berbeda jika harus mendirikan kantor cabang, piutang penjualan produsen tersebar sesuai dengan peta wilayah kantor cabangnya.
- Keamanan pembayaran lebih aman menggunakan distributor dibanding dengan menggunakan kantor cabang. Apabila pengontrolan piutang penjualan sangat lemah, maka resiko piutang bad debt di kantor cabang akan meningkat. Hal ini merupakan kerugian produsen.
Manfaat lainnya di biaya operasional jika bekerja sama dengan distributor local dibanding mendirikan kantor cabang, antara lain:
- Produsen akan mengeluarkan biaya operasional yang cukup besar jika menggunakan kantor cabang. Misalnya biaya gaji SDM, biaya bahan bakar, biaya uang makan, biaya ATK, serta biaya kebutuhan SDM pemasaran lainnya. Berbeda kalau bekerja sama dengan Distributor, produsen tidak mengeluarkan biaya tersebut, hanya diskon lebih besar dari normal saja yang dikeluarkan oleh produsen.
- Biaya operasional yang cukup besar ini juga karena besarnya SDM yang dimiliki di setiap kantor cabang. Selain biaya yang besar, pengelolaan SDM ini cukup rumit. Selain itu di jangka panjang produsen harus siap dengan pesangon jika SDM di-PHK.
Nah, setelah mengetahui hal ini tentunya perlu dipertimbangkan, bahwa untuk meningkatkan penjualan memerlukan strategi yang cukup mantap. MULTY DISTRIBUTION CHANNEL adalah jawaban yang SMART. Untuk mendapatkan perbandingan dan referensi bacaan yang sesuai maka baca buku : DISTRIBUTORSHIP MANAGEMENT & WINNING IN THE BATTLE WITH DISTRIBUTION STRATEGY karya Frans M. Royan. Atau akses www.groedu.com. Sedangkan untuk set up Channel of distribution, anda memerlukan pakar di bidang ini untuk membantu. Fase dalam konsultasi set up channel distribution ada 5 fase, yang semuanya mengacu pada ISO 9001 : 2008. Silahkan hubungi : 0818521172, atau akses www.groedu.com. Semoga berhasil!
PEMASARAN ALA UPIN DAN IPIN
Upin dan Ipin termasuk anak-anak milenium yang cerdas. Suatu hari mereka mendapatkan ide untuk mengunduh rambutan milik wak haji. Bukan untuk dimakan, tetapi untuk diperdagangkan. Setelah mengunduh rambutan wak Haji, Upin dan Ipin mulai membawa buah hasil unduhan itu ke jalan raya untuk dijual. Beberapa jam ia menunggu, tidak ada pembeli yang datang. Kalau berjualan secara konvensional berarti bocah-bocah kecil itu sedang menunggu bola, alias menunggu pembeli. Penjualan seperti ini sudah tidak musim lagi, karena begitu banyaknya perusahaan yang memproduksi produk yang sama akhirnya perusahaan memilih untuk menjual dengan cara jemput bola. Perusahaan mulai membentuk team keliling, baik yang dilakukan door to door maupun melalui perantara. Serta membuat distribution channel yang luas. Inilah cara penjualan kita yang sudah memiliki model lebih aktif dan atraktif. Begitu pula distribution cahnnelnya tidak melalui satu keranjang yang dilakukan Upin dan Ipin, tetapi sudah menebar diberbagai keranjang. Nah, polanya akhirnya ke toko, lewat internet web site, blog dan toko on line. Cara terakhir, lewat dunia maya, ditengarai sudah bisa dilakukan tanpa melalui batas apapun baik jarak, waktu dan ketemu fice to fice. Transaksi cukup bisa dilakukan lewat dunia maya, paypal atau kartu kredit.
Apa yang dijual? Apapun bisa dijual melalui dunia maya ini. Mulai dari Kuda, Rumah, Buku, Koin emas, Perangko, Berlian dan semua yang berbentuk fisik bisa dijual melalui dunia maya ini. Bumi ini semula dikatakan bulat akhirnya tidak lagi bulat tetapi menjadi flat seperti dataran yang jaraknya amat dekat bila ditempuh dari dunia maya. Pemasaran produk akhirnya tidak lagi dibatasi oleh jarak, waktu dan hubungan kedekatan, tetapi lebih kepada community. Itulah kenyataan dan sudah berlangsung saat ini.
Hal ini ditegaskan kembali oleh Thomas L. Friedman bahwa bumi ini datar. The world is flat! Sangat berbeda dengan pendapat awal yang disampaikan oleh Nicolaus Copernicus & Galileo Galilei bahwa bumi ini bulat seperti pendapatnya bahwa bintang dan matahari serta bulan itu sedang mengelilingi bumi. Pendapat yang bertentangan ini tentunya ditinjau dari sudut pandang yang berbeda. Friedman lebih melihat dari sudut padang teknologi internet yang semakin canggih dan penggunaan meluas, sehingga ia melihat bahwa perkembangan teknologi internet bisa mengubah pola pemasaran dewasa ini. Konsumen tidak perlu lagi keluar rumah untuk membeli kebutuhannya. Begitu pula para pemasar tidak perlu keluar kantor untuk menjajakan barang dagangannya. Semua bisa dilakukan lewat internet. Begitulah pendapat Friedman yang akan terjadi mengenai pola pemasaran.
Akan halnya dengan Upin dan Ipin, apakah pemasar yang seperti ini masih ada di tahun-tahun mendatang? Tentunya untuk produk-produk tertentu masih ada yang pola pemasarannya dengan cara tersebut. Penjualan dan pemasaran secara konvensional akan terus berlangsung dan berangsur surut bersamaan dengan perkembangan teknologi internet. Pola-pola lama dalam penjualan dan pemasaran akan menjadi kombinasi penjualan dan pemasaaran di masa mendatang. Di dalam praktek, seperti yang kita ketahui bahwa ”barter” adalah kegiatan penjualan zaman bahula, tetapi praktek masa kini penjualan dengan cara barter masih berlangsung. Pola penjualan dan pemasaran barang dengan cara lama tidak akan lenyap, tetapi memperkaya penjualan dan pemasaran produk masa mendatang.
Kesimpulan dari artikel ini adalah mempraktekan pola penjualan yang pas dengan produk yang dimiliki dan mengkombinasikan teknologi serta pola baru penjualan dan pemasaran untuk mencapai penjualan maksimal. Alhasil tidaklah heran jika kemudian mulai banyak ditemukan para pemasar yang menggunakan pola off line, akhirnya mulai mencoba memasarkan produknya secara on line sebagai tambahannya. Amazon.com yang semula hanya menjual buku-buku, kini barang yang dijual beraneka ragam seperti suparmarket Wall Mart. Jadi gabunglah kekuatan konvensional dengan non konvensional untuk mendapatkan maximum sales seperti yang diinginkan!**
MARKET INTELLIGENCE ALA VIETNAM
Ketika Vietnam baru saja menang perang dari Amerika dan merdeka. Presidennya datang ke Indonesia untuk belajar cara menanam padi yang baik bagaimana. Presiden Vietnam ini masih nampak sangat miskin, hal ini terlihat dari baju yang dikenakan. Bajunya bolong-bolong akibat letikan rokok yang dihisapnya. Ia hanya bersandal jepit dan tidak bersepatu. Namun dari data wikipedia disebutkan ” Sebagai hasil dari langkah-langkah reformasi tanah (land reform), Vietnam sekarang adalah produsen kacang cashew terbesar dengan pangsa 1/3 dari kebutuhan dunia dan eksportir beras kedua terbesar di dunia setelah Thailand. Vietnam memiliki persentasi tertinggi atas penggunaan lahan untuk kepentingan cocok tanam permanen, 6,93%, daripada negara-negara lain di Sub-wilayah Mekong Raya (Greater Mekong Subregion). Kepemilikan swasta digenjot dalam bidang industri, perdagangan dan pertanian. Dalam satu pihak, Vietnam berhasil mencapai pertumbuhan GDP tahunan sebesar 8% dari tahun 1990 hingga 1997 dan berlanjut sekitar 7% dari tahun 2000 hingga 2005, membuat Vietnam sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat kedua di dunia”. Konon kisah ini sudah banyak yang mengetahui, dan seringkali menjadi anekdot. Anekdotnya bagaimana? Murid yang diajari akhirnya menjadi kaya dibanding gurunya. Sekarang bukti nyatanya sudah sangat nampak, sementara Indonesia kekurangan beras, Vietnam malah menjadi pengekspor beras ke Indonesia. Alhasil beras di Indonesia menjadi mahal, dan rakyat kecil pada mengeluh untuk dapatkan beras murah.
Apa yang bisa kita petik dari pelajaran ini jika dihubungkan dengan Market Intelligence? Tentunya ada kisi-kisi yang sangat mirip dengan praktek pemasaran produk. Presiden Vietnam datang ke Indonesia niatan sesungguhnya bukan untuk belajar cara menanam padi, ia sebenarnya sudah pandai menanam padi bila dibanding Indonesia. Ia hanya ingin menyelidiki seberapa besar penduduk Indonesia di 20 tahun mendatang, itulah yang sedang ia pelajari. Serta kedatangannya ingin menyakinkan, apakah penduduk Indonesia memang benar-benar memiliki kebiasaan makan nasi sehari-harinya.
Kedatangan presiden Vietnam ini sama seperti kisah seorang salesman produk sepatu yang diutus oleh bosnya untuk datang ke sebuah Pulau. Salesman pertama yang datang ketika melihat kondisi sekitar pulau melihat bahwa penduduk di pulau itu jarang yang memakai sepatu, maka ketika ia pulang ke kantornya, ia memberikan laporan pada bosnya bahwa di pulau itu tidak ada peluang untuk jualan sepatu karena tidak ada yang sedang memakai sepatu. Sang Bos tidak yakin dengan hal itu, ia kemudian mengutus salesman yang ke 2, dan salesman ke 2 itu melihat hal yang sama seperti yang dilihat salesman pertama, penduduk tidak ada yang memakai sepatu. Tetapi ia memiliki pendapat lain, bahwa ia sedang melihat peluang yang besar di pulau itu untuk jualan sepatu. Tinggal bagaimana perusahaan melakukan edukasi pada penduduk di pulau itu dan membuat distribution channel!
Akan halnya dengan presiden Vietnam, ia memiliki kaca mata yang sama dengan salesman 2, bahwa Indonesia adalah pasar yang cukup besar jika nanti Vietnam sudah berkembang sebagai Negara pertanian yang terbesar di Asia. Oleh sebab itu jangan heran kemudian kalau ”kenyataan” itu terjadi. Indonesia menjadi tujuan penjualan produk pertanian Vietnam. Sementara sang objec, Indonesia sudah terlanjur merasa sebagai guru, jadi sekarang posisinya adalah sedang berbangga karena muridnya berhasil. Sebagai sang guru tentunya tidak tega dengan muridnya yang sedang jualan. Sang guru lalu membelinya walau sebenarnya di satu sisi juga menjadi buah simalakama. Sebenarnya bukan ini yang dimaksud, untuk sektor tertentu Vietnam telah berkembang lebih baik dari Indonesia, ia telah mengembangkan produk pertaniannya dengan metode yang canggih, apalagi dengan cara memasarkan produknya. Ia sudah memiliki data base dan analisanya, yang cikal bakalnya diambil dari presiden Vietnam pertama.
Kisi-kisi yang sama lainnya adalah penjualan-penjualan riil yang dilakukan oleh salesman di toko-toko, jurus pamungkas akhir agar pemilik toko membeli adalah menyodorkan nuansa kekeluargaan, membantu pemilik toko bekerja, atau ritual-ritual lainnya yang pada intinya adalah melakukan pendekatan pribadi agar produk yang dijualnya dibeli oleh konsumen. Salesman-salesman seperti inilah yang dikehendaki oleh para pemilik usaha karena murah meriah investasinya. Tetapi jika ada perusahaan yang sangat agresif menggunakan metode penjualan yang lain, salesman-salesman seperti ini akan segera tumbang digantikan dengan salesman profesional yang sudah menguasai data customer lengkap dan analisanya. Semua ini bisa terjadi jika market Intelligence perusahaan sangat kuat, ia bisa membekali orang lapangannya dengan informasi yang akurat pula. Jadi jangan remehkan market Intelligence!
Perusahaan-perusahaan yang berkompetisi, selalu saling intip soal aktivitas atau program-program jangka pendek dan panjang perusahaan kompetitor, misalnya peluncuran produk baru, harga produk, iklan, lokasi pemasaran, serta lainnya. Cara mendapatkan informasi tidak tanggung-tanggung, mengorek-korek tong sampah bukanlah pemandangan yang aneh, tetapi mereka melakukan untuk mendapatkan sejumlah informasi yang akan dilakukan pesaingnya. Bahkan selain melakukan hal remeh seperti diatas, market intelligence bisa datang dalam bentuk karyawan rendahan seperti kuli angkut, office boy, atau salesman sekalipun. Hati-hati jika anda tidak waspada dengan market intelligence pesaing! Anda akan dilumatkan dan dipatakan tulang-tulangnya hingga colaps!**
PELATIHAN MANAGEMENT TOKO (DISTRIBUTION CHANNEL)





Pelatihan ini cukup langkah. Tugas utama mestinya produsen yang menjalankan. Selama ini toko pengecer hanya sebagai ojec atau rantai distribusi paling akhir. Meskipun mereka kini sedang mengalami kesulitan dengan munculnya toko eceran modern. Produsen terus menggunakan mereka sebagai lahan penempatan barang-barangnya. Sesungguhnya pemasaran masa kini perang tidak lagi produk dengan produk, produsen dengan produsen, tetapi perang bagaimana bisa merebut space di toko-toko pengecer. Jika channel distribution paling akhir ini tidak diberdayakan dan dibuat pintar, keberpihakan mereka pasti hanya pada produsen-produsen yang perduli terhadap mereka. PELATIHAN MANAGEMENT TOKO YANG LANGKAH INI DISAMBUT MEREKA BEGITU ANTUSIAS!
CONSULTANT CHANNEL OF DISTRIBUTION/CONSULTANT DISTRIBUTORSHIP MANAGEMENT/CONSULTANT SETTING CHANNEL OF DISTRIBUTION/CONSULTANT SALES & DISTRIBUTION STRATEGY/DISTRIBUTORSHIP MANAGEMENT CONSULTANT/CONSULTANT ACCOUNT RECEIVABLE SALES FORCE/CONSULTANT CHANNEL OF DISTRIBUTION STRATEGY/CONSULTANT MULTY DISTRIBUTOR/CONSULTANT SALES OPERATION &PLANNING/CONSULTANT CHANNEL OF DISTRIBUTION/CONSULTANT SOP DISTRIBUTOR/CONSULTANT SOP DISTRIBUTORSHIP MANAGEMENT/CONSULTANT KANTOR CABANG PEMASARAN/CONSULTANT SOP KANTOR CABANG PEMASARAN/CONSULTANT SOP OFFICE MARKETING/
Pemasaran produk anda saat ini tidak luas wilayah penjualannya? Maka volume penjualan anda pasti tidak bisa meningkat. Apakah anda ingin meningkatkan penjualan dengan memperluas pemasaran produk anda? Anda tentunya membutuhkan channel of distribution yang cukup banyak sebagai penyalur produk anda. Ada dua cara dalam memperluas pemasaran produk anda, antara lain:
- Mendirikan kantor cabang di kota-kota besar untuk perluasan pemasaran anda. Berarti anda butuh investasi mobil delivery, office, gudang, peralaatan kantor, SDM dan sebagainya. Anda perlu menset up-nya agar kantor perwakilan anda effektif.
- Pilihan kedua adalah membuka pemasaran di wilayah lain dengan bekerja sama dengan distributor local setempat. Anda membutuhkan distributor-distributor yang bisa bekerja sama dengan anda. Selain membutuhkan seorang representative untuk menghandle distributor anda, anda sekarang membutuhkan infrastruktur/system yang harus dibangun ketika bekerja sama dengan distributor.
Pilihan pertama tentunya anda membutuhkan system kantor cabang yang efektif. Begitu pula untuk pilihan kedua anda juga membutuhkan system yang efektif agar distributor partner kerja sama bisa berjalan dengan lancar.
Siapa yang bisa membantu anda untuk melakukan set up kantor cabang pemasaran anda? Dan siapa yang bisa membantu men set up distributor anda yang ada di Indonesia?
Groedu International adalah consultant di bidang setting channel of distribution yang telah banyak membantu perusahaan yang sedang mengembangkan pemasaran produknya ke seluruh wilayah Indonesia dengan metode & fase konsultasi sebagai berikut:
Fase 1 : Interview/checklist (Visi & Misi perusahaan, target sales, kapasitas produksi)………
Fase 2 :Rencana pembentukan team project…
Fase 3 : Hunting distributor, seleksi profile company, MOU…..
Fase 4 : Implementasi SOP & marketing communication
Fase 5 : Tinjauan management ( perkembangan penjualan, AR, efektifitas program promosi, dan lain-lain ) …………..
ANDA TERTARIK MENGEMBANGKAN WILAYAN PEMASARAN ANDA AGAR VOLUME PENJUALAN MENINGKAT? ANDA BISA HUBUNGI:
FRANS M.ROYAN , SE, MM
GROEDU INTERNATIONAL CONSULTANT
Handphone : 0818521172
Fax/Telp : 031-8707679
Email : fransmusaroyan@yahoo.com atau groedu@gmail.com
Wesite : www.groedu.com
WAKTU LUANG MENGHASILKAN UANG
”Strategi memilih karier, bisnis, mendapatkan uang melalui pengelolaan waktu luang”
(EFFAR) Waktu merupakan karunia yang tak ternilai harganya. Ia akan memiliki arti jika digunakan sebaik-baiknya, dan akan berlalu begitu saja jika tidak dimanfaatkan dengan baik.
Buku ini menawarkan tentang pengelolaan dan pemberdayaan waktu agar dapat menghasilkan uang sebagai tambahan penghasilan. Jadi, tidak harus mengganggu atau mengorbankan pekerjaan utama. Namun, boleh jadi hasil sambilan tersebut lebih besar dibanding penghasilan pokok.
Buku ini juga diperkaya pengalaman nyata orang-orang yang benar-benar memanfaatkan waktu luang secara maksimal hingga sukses secara finansial. Waktu akan terus bergerak maju, tak akan berulang. Anda tentu tak ingin membiarkan waktu berulang begitu saja, yakni dengan menyikapinya secara bijaksana menurut manajemen waktu. Sebelumnya bacalah buku ini.
KIAT SUKSES MENGELOLA SUPERMARKET, MINI MARKET DAN TOKO TRADISIONAL
(EFFAR) Buku ini bisa dikategorikan sebagai three in one karena memuat kiat mengelola supermarket, toko tradisional dan minimarket sekaligus. Masing-masing memiliki ciri khas atau seluk beluk sendiri. Anda bisa mengelola ketiganya, bisa juga memilih di antara ketiga usaha itu.
Buku ini akan membahas: asal mula supermarket, penataan supermarket hingga detail-detailnya, penempatan staf, pengembangan SDM, pelayanan konsumen, kerja sama dengan mitra usaha, dan segala hal yang berkaitan dengan supermarket dapat anda simak. Demikian pengelolaan toko tradisional agar mendapat keuntungan besar seperti pemilihan lokasi, penggalian sumber modal, manajemen keuangan, peningkatan omzet, dan sebagainya. Dan yang terakhir, dapat anda simak pula kiat mengelola minimarket, kerja sama permodalan, termasuk mewaralabakan minimarket.
Anda pasti banyak mengambil manfaat dari buku ini, terlebih lagi yang memiliki sense of business tinggi. Kerja keras dan kreativitas anda akan membuahkan kesuksesan.









