TINGKATKAN PENJUALAN, PILIH SALURAN DISTRIBUSI GANDA


GambarDua sampai tiga tahun terakhir ini penjualan ponsel terus meningkat, selain penawaran akan model dan fasilitas ponsel yang beragam oleh produsen ponsel yang memiliki brand cukup ternama seperti Nokia, Samsung , Sony Ericson, dan Black Berry. Masuk pula dengan deras produk ponsel dari Cina yang memiliki aneka model dengan harga terjangkau. Produk-produk Cina yang membanjiri pasar di Indonesia begitu maraknya dengan berbagai aneka merek. Kondisi ini tentunya semakin memudahkan rakyat Indonesia yang jumlahnya lebih dari 250 juta penduduk terdiri dari orang dewasa, remaja dan anak-anak (umur 9-10 tahun) memainkan ponsel yang dimilikinya.

Selain itu perusahaan-perusahaan penyedia jasa pulsa seperti Indosat, Telkomsel, XL, serta lainnya berlomba juga menawarkan paket-paket perdana plus ponsel yang sangat murah dan membuat para pengguna ponsel menambah jumlah nomer selularnya. Pada akhirnya kegiatan bertelpon ria ternyata  sangat membawa dampak bagi sisi lain yang selama ini adalah bagian yang sangat penting dalam pengembangan SDM baik di sisi pendidikan, informasi, transfer pengetahuan, teknologi dan sebagainya yang menggunakan media buku. Hal ini tentunya karena fungsi ponsel sekarang ini sudah tidak lagi untuk bertelphon dan ber-sms, tetapi memiliki fungsi lain seperti mendapatkan informasi dengan cepat dari internet, dari radio, berbagai isu dan berita dari jejaring social Face book, twiter, serta lainnya. Fokus utak-atik ponsel ini mengalihkan perhatian para konsumen dan mengurangi aktivitas membaca yang seharusnya juga suatu kebutuhan. Selain focus bermain ponsel, keberadaan channel telivisi yang beragam juga seperti membius masyarakat Indonesia yang bermula sebagai masyarakat penonton dibanding sebagai masyarakat yang gemar membaca.

Kondisi ini nyaris diprediksi mempengarui penjualan buku secara Nasional,  tahun 2010 penjualan buku secara Nasional menurun, data yang pasti belum didapatkan tetapi sudah nampak bahwa para penerbit  terakhir ini amat selektif  dalam pemilihan naskah yang diterbitkan, membuat kebijakan marger antara penerbit induk dan imprintnya, menyatukan divisi pemasaran yang semula dilakukan per unit bisnis menjadi satu seperti yang terjadi pada kelompok penerbitan besar di Jakarta. Para penulis mulai mengalihkan keahlian menulis tidak hanya dibidang penerbitan tetapi sudah mulai mengerjakan project-project penulisan untuk bisnis seperti yang dilakukan penulis bisnis senior. Inilah tanda-tanda bahwa penurunan omplah penjualan buku berdampak pada berbagai lini yang terlibat dalam penerbitan sebuah buku.

Lalu bagaimana solusi untuk menghadapi perkembangan trend yang sangat mempengarui bisnis di bidang perbukuan, ternyata para penerbit bisa bergeliat seperti Naga yang seolah selama ini tidur panjang dengan pulas. Para penerbit membuat berbagai terobosan baru dalam menaikan atau mempertahankan penjualannya. Sekarang ini para penerbit tidak saja menyalurkan buku ke toko buku jaringan Gramedia, Togamas, Kharisma, Toko buku Gunung Agung atau toko buku local tidak berjejaring. Berbagai alternative penyaluran digunakan seperti mulai menyasar : event pameran buku yang digelar dikota-kota yang tidak ada toko buku, pameran di acara seminar, mengambil projek pemerintah atas perpustakaan daerah, atau perpustakaan pemerintah lainnya, jaringan perpustakaan sekolah, perusahaan-perusahaan yang menekankan CSR-nya ke bidang bacaan seperti yang dilakukan perusahaan rokok Sampoerna, melakukan direct selling ke pengguna buku bacaan, menggunakan penulis sebagai saluran alternative seperti menjual buku di acara talk show dan seminar, menjual buku melalui on line, serta lainnya. Penerbit sangat berusaha dan sadar kalau tidak memiliki strategi menyalurkan buku melalui channel yang beragam maka buku yang diproduksinya akan menjadi stok yang menumpuk seperti gunung.

Friedman,G & Fuhrey  dalam bukunya “Channel advantage” menyatakan jika ingin menang dalam suatu pemasaran produk, maka perusahaan harus memiliki saluran ganda agar bisa menjual produknya seluas-luasnya. Perusahaan penerbitan adalah contoh suatu perusahaan yang terus berupaya survive dari gempuran trend penggunaan produk masa kini dan trend menurunnya masyarakat untuk gemar membaca melalui media buku. Bagaimana dengan usaha-usaha lainnya, baik di bidang FMCG, property, Unit bisnis Waralaba, produk-produk untuk manufacturing, serta lainnya? Tentunya nasihat Friedman adalah suatu acuan yang tidak pernah boleh kita abaikan jika ingin menang dalam pertempuran pemasaran produk masa kini. Tentunya langkah-langkah yang bisa dilakukan agar menang dalam menjual produk agar meningkat adalah membuat saluran ganda agar saluran yang sudah dibuka menjadi produktif.

Sebagai kesimpulan untuk menang dalam persaingan dan bertahan dari gempuran perubahan-perubahan yang terjadi masa kini, setiap perusahaan atau bisnis owner sudah mulai memikirkan alternative pemilihan saluran distribusi. Memulai mengindentifikasi saluran baru amat penting agar usaha yang dikembangkan bisa berjalan dengan baik dan dengan volume penjualan yang meningkat. Siapa sangka akhirnya POM bensin, terminal, air port, café, serta lainnya menjadi saluran baru untuk produk tertentu. Oleh sebab itu belumlah terlambat ketika usaha anda terseok-seok, anda mulai mencari alternative saluran-saluran baru untuk memasarkan produk agar penjualan terus meningkat. Plus segera melakukan inovasi terhadap produk atas perubahan-perubahan yang  terjadi, jangan sampai yang dialami oleh produk mesin ketik manual yang kemudian mati karena munculnya komputer, begitu pula dengan matinya kamera yang menggunakan film digantikan dengan kamera digital. Salah memprediksi hal ini membuat colaps usaha anda, dimana sebagai bisnis owner anda sudah mengembangkan sedemikian rupa baik produk dan penjualan. Maka carilah saluran yang sesuai jika produk anda  memang membutuhkan saluran baru, dan berinovasi jika perlu berinovasi. Semoga!**