Sang Presenter ala Penjual Obat


PRESENTER ALA PENJUAL OBAT

Waktu itu saya masih SD pada tahun 60an, di kota Kediri, Jawa Timur. Biasanya setelah selesai belajar dan menyelesaikan PR, saya diijinkan oleh Bapak untuk “refresh” jalan-jalan dengan teman-teman. Karena saat itu belum banyak sarana hiburan, maka acara rutin kami satu geng adalah nonton “bakul jamu” (penjual obat) dilapangan Tugiwak (sekarang sudah berubah fungsi menjadi pasar Setonopande, kecamatan Kota).

Ulah dan teknik penjual jamu itu unik dan bermacam-macam. Sebagai daya tarik untuk mengumpulkan penonton, ada yang membawa peralatan sirkus berupa sepeda rodasatu, mulai yang berukuran normal hingga yang sadelnya sangat tinggi berukuran sekitar 3 meter. Ada pula yang membawa kotak besar yang setelah dibuka ternyata berisi ular sanca. Tetapi ada juga yang tampil tanpa alat peraga penarik perhatian, melainkan dengan dandanan seorang profesional yang memakai setelan jas, bahkan tanpa membawa tas besar seperti yang banyak dilakukan oleh rekan-rekan sejawatnya. Ia hanya membawa dua lembar koran (bekas) yang digulung yang ternyata berisi dua batang lilin berukuran besar.

Rata-rata permalam ada dua sampai tiga penjual obat yang beroperasi. Mereka karang-kadang membuka “show”nya dalam waktu bersamaan. Jelas ada persaingan ketat untuk merebut audience, karena jika “show”nya tidak menarik, serta merta penonton akan berpindah ke lingkaran penjual obat yang lain, yang lebih seru. Karena seingat saya, situasi seperti itu berjalan bertahun-tahun (lebih dari 3 tahun), maka seolah-olah masing-masing “show” tadi telah memiliki segment tersendiri, telah memiliki kelompok audience tersendiri. Bayangkan, orang yang menonton penjual jamu A telah pernah berkali-kali nonton acara show penjual tersebut, tetapi masih juga mau hadir kembali. Bahkan seorang yang akhirnya memutuskan membeli obat yang ditawarkan penjual tersebut melakukan eksekusi (membeli) setelah nonton show penjual tersebut yang ke tiga atau ke empat. Padahal seorang penjual obat (setelah saya pelajari dan saya amati) kata-kata dan langkah-langkahnya dalam menyajikan atraksinya selalu sama dari malam ke malam.

Kesimpulannya barangkali, sebuah informasi atau persuasi agar dapat mempengaruhi audiencenya harus dilakukan berulang-ulang, dengan cara yang menarik dan dapat dimengerti, hingga akhirnya sang audience benar-benar yakin dan memutuskan untuk melakukan apa yang di promosikan oleh sang presenter, eh penjual obat. Harus menarik. Jelas, agar audience mau datang. Walaupun awalnya sebagai penanda (pemberi ciri atau daya tarik), penjual obat itu menggunakan komunikasi Auditory/ Voice  untuk menarik perhatian orang yang lewat agar memperhatikan lalu menontonnya. Komunikasi visual dilakukan dengan membawa peraga sepeda sirkus (walaupun seringkali alat itu akhirnya tidak dimainkan sama sekali) atau kotak kayu yang katanya berisi ular yang ditangkap dari gunung kidul (memberi harapan akan adanya surprise nantinya). Dan tentu saja yang paling utama adalah komunikasi yang disampaikan secara verbal dalam bahasa lesan. Cara komunikasi inilah yang diharapkan akan mampu menyampaikan informasi maupun persuasi sehingga audience yang dijadikan target pasar melakukan apa yang diharapkan sang presenter, membeli produk yang ditawarkan.

Seringkali bahkan efek yang ditimbulkan bukan sekedar audience membeli produk, tetapi juga melakukan hal-hal lain yang disampaikan melalui pesan-pesan sang penjual obat. Pesan-pesan itu bisa meliputi sikap hidup sehari-hari agar tetap sehat, memberikan sugesti atau tip-tip jitu jika sedang mengalami sakit, atau saran bagaimana agar sehari hari tetap “kuat” dan bisa “mengangkat” sampai tiga kali dalam semalam.

Pernah ada tiga orang teman yang nekat urunan membeli sebotol obat kuat yang ditawarkan penjual obat dalam bentuk kapsul. Lalu sembunyi-sembunyi mereka meminum obat kuat tersebut. Setelah minum obat yang dipromosikan penjual obat selama berhari-hari, salah seorang diantaranya membungkuk dan teman kedua disuruhnya naik diatas punggungnya. Hebat, ternyata dia kuat. Ternyata benar juga kasiat obat kuat ini. Lalu teman ketiga disuruhnya naik juga. Kali ini masih kuat juga menahan beban dua orang teman dipunggungnya selama beberapa detik, lalu ..gubrak.. ketiganya jatuh bersama. Benar juga, pikir mereka obat “kuat” si tukang obat ini benar-benar menambah keperkasaan mereka. Ini baru diminum sekali, bayangkan jika diminum setiap malam seperti saran penjual obat, pastilah kita bertiga akan tumbuh kuat seperti Samson. Gile bener.., ini baru persuasi yang masuk dan berhasil mempengarui bahkan mensugesti audiencenya.

Cerita diatas adalah gambaran bagaimana informasi ditangkap oleh audience sesuai dengan persepsi audience masing-masing. Kekuatan pesan yang mampu mempengaruhi akal maupun imajinasi audience seringkali sangat luar biasa efeknya. Jika kemampuan ini diasah dan digunakan secara positip dan benar pastilah akan memiliki dampak yang luar biasa.

Bung Karno, seorang orator ulung, adalah presenter yang luar biasa. Setiap kali beliau melakukan presentasi selalu dihadiri ribuar audience, kekuatan auditorynya mampu menyihir jutaan orang baik yang mendengar presentasinya secara langsung maupun yang mendengar melalui siaran RRI. Bahkan kita pada generasi yang berbeda, masih bisa merasakan getaran kharismanya bila memutar rekaman pidato beliau.

Sebenarnya setiap kita selalu dituntut untuk mampu berperan sebagai seorang presenter dalam mengemukakan maksud kita, dalam mengajak orang lain memahami ide kita, mempengaruhi orang lain agar berbuat sesuatu yang kita harapkan. Seorang presenter tidak harus memiliki kemampuan berorasi yang hebat seperti Bung Karno, atau mempengaruhi orang yang jalan agar berhenti dan mendengar paparan penjual jamu. Ada semacam ilmu atau pengetahuan khusus yang bisa dipelajari agar omongan (kerennya presentasi) kita didengar dan diperhatikan orang (audience). Mungkin ilmu presentasi jika mengacu pada “filsafat imu” belumlah sahih dikatakan sebagai suatu “ilmu”. Tetapi  sebatas pengetahuan atau kumpulan pengalaman orang lain yang sudah melakukan hal yang sama lebih dulu. Jika kumpulan pengalaman tadi dapat disetujui dan ternyata ketika di praktekkan mendapatkan hasil yang sama, maka komunitas orang tadi akan menganggap sebagai “ilmu”. Walaupun belum se sahih apa yang di rumuskan oleh Pythagoras bahwa perhitungan panjang salah satu sisi segitiga siku-siku akan dapat diketahui, jika dua sisi yang lain diketahui. Kalau jaman sekarang kita akan gampang bilang”ya iya laahh…”, sementara pak Pit dulu setengah mati menemukan rumus tersebut dan meyakinkan orang akan kebenarannya. Loh, itu Presenter yang informasinya baru diyakini audience setelah berabad abad kemudian. Mau?

*Adi Kusrianto adalah Penulis 90 buku Komputer, Bisnis, dan beberapa buku Genre lainnya. Beliau sekarang adalah Entrepreneur in Residen (Dosen Luar Biasa) Universitas Ciputra – Surabaya.